july kajian

British Exit, Pergeseran Roda Perekonomian Dunia

Halo Civitas Akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana! Sudahkah kalian mengikuti perkembangan berita akhir-akhir ini? Tentunya salah satu berita terhangat yang diangkat oleh media berita yakni British Exit alias Brexit. Brexit merupakan langkah yang telah diambil oleh Inggris untuk memisahkan diri dari Uni Eropa atau UE. Dimana dengan langkah ini dapat dipastikan Inggris beserta negara Britania Raya lainnya yang mencakup Inggris, Skotlandia serta Wales telah mengucapkan selamat tinggal selamanya dengan para anggota Uni Eropa.

Sebelum menelitik terlalu jauh pada topik, mari membahas mengenai Uni Eropa. Uni Eropa merupakan suatu organisasi yang beranggotan negara-negara Eropa, dimana organisasi ini dibentuk atas asas suatu perjanjian yakni Perjanjian Maastricht pada tahun 1992. Melalui Uni Eropa dibentuk sejumlah keputusan melalui musyawarah dan mufakat diantara negara-negara anggota serta mempertanggungjawabkan keputusan tersebut. Lembaga penting dalam Uni Eropa yakni Komisi Eropa, Dewan Uni Eropa, Dewan Eropa, Mahkamah Eropa dan Bank Sentral Eropa.

Pertanyaan terbesar PERTAMA yang membuat seluruh dunia bertanya-tanya adalah bagaimana bisa Inggris memilih hengkang dari keanggotaan Uni Eropa? Memang telah menjadi rahasia umum bahwa rakyat Inggris tidak menyukai keanggotaan Inggris di UE. Ini diperkuat dengan perubahan dibeberapa tahun terakhir, rakyat Inggris merasa ruang gerak Inggris terkekang oleh berbagai barisan peraturan dari UE. Salah satu jejak perbaikan yakni dengan melakukan renegosiasi dengan Uni Eropa Februari 2016 lalu guna meluruskan berbagai hal bengkok yang dianggap negatif, tetapi bersama dengan diumumkannya akan terdapat referendum pada pertengahan tahun 2016.

Terdapat setidaknya 5 hal yang menjadi perdebatan Inggris untuk memutuskan hengkang dari keanggotan Uni Eropa yakni :

  • Perdagangan Inggris tergantung pada UE. Karena sebagian besar ekspor Inggris dikirim ke negara-negara UE. Kubu Pro setuju untuk menegosiasikan kesepakatan baru dengan negara keanggotan UE tanpa perlu ikut dalam keanggotan UE. Sedangkan kubu Kontra justru selama ini Inggris telah dimudahkan dalam bebas tarif ekspor, hambatan non-tarif serta kemudahan lain saat masih dalam UE.
  • Inggris membayar iuran sebesar 340 pounds kepada UE. Kubu pro memperhitungkan bahwa Inggris bisa menghemat biaya hingga 350 juta pounds untuk alih dana pada bidang lainnya seperti riset dan pengembangan industri. Sementara kubu Kontra memperhitungkan bahwa manfaat dari UE mencapai 3000 pound tiap tahunnya jika masih dalam UE.
  • Barisan peraturan UE mengubah standar nasional Inggris. Kubu Pro setuju bahwa dengan meninggalkan UE, Inggris dapat dengan mandiri mengatur seluruh kebijakan dan regulasi yang cenderung lebih disukai warga Inggris. Sedangkan kubu Kontra beranggapan bahwa jika Inggris masih dalam UE maka Inggris dapat memperjuangkan regulasi yang lebih baik.
  • Warga Inggris khawatir dengan pengaruh UE dalam aturan imigrasi mereka. UE memperbolehkan imigran untuk mengakses keuntungan pada lapangan pekerjaan Inggris namun Inggris tidak memperbolehkan sampai imigran mencapai 4 tahun di Inggris. Kubu Pro yakin bahwa jika keluar dari UE maka Inggris dapat membuka pintu bagi imigram berpotensi selain anggota UE yang kualitas SDM-nya jauh lebih baik. Sementara kubu Kontra berpikir dengan keluar dari UE pun tidak menjadi jaminan arus imigrasi membaik.
  • Peran Inggris dlam percaturan ekonomi internasional. Kubu Pro setuju jika keluar dari UE maka Inggris dapat mengambil alih sendiri kedudukan dalam perdangan bebas dan kerjasama internasional. Sedangkan kubu Kontra yakin bahwa jika Inggris masih dalam UE, maka kalangan internasional akan lebih memandang Inggris, karena dapat mewakili 2 lembaga yakni dari pihak Inggris dan UE.
  • Selain itu terdapat pengaruh kebijakan UE yakni penggunaan Euro pada tahun 2020 untuk negara yang tergabung dalam UE.

Guna mengusaikan perdebatan panjang maka diadakanlah suatu Referendum sesuai kesepakatan yang dilaksanakan oleh dua buah kubu yakni kubu Pro yang setuju untuk  hengkang dan kubu Kontra yang setuju untuk tetap di Uni Eropa, referendum dilaksanakan pada Kamis, 23 Juni 2016, dimana memberi sebuah catatan nyata bahwa kubu Pro unggul sebesar 51,9% sedangkan kubu Kontra yakni sebesar 48,1%. Pihak BBC yakni salah satu media berita dunia mencatat bahwa terdapat perbandingan angka yakni sebesar 17,410,742 memutuskan hengkang dan 16,141,241 memilih untuk bertahan. Salah satu dampak signifikan yang ditimbulkan oleh British Exit yakni pasar saham global ikut anjlok serta memberi berbagai sentimen negatif ke pasar saham berbagai belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia sendiri.

Pertanyaan terbesar KEDUA yakni dampak apa yang timbul dari British Exit pada perekonomian dunia? Tentunya sangat berdampak. Sentimen British Exit ini diyakini memperburuk perekonomian, merusak investasi dan mengancam lapangan pekerjaan. Sebanyak 198 pemimpin perusahaan dari 36 perusahaan besar yang terdalam FTSE 100 (salah satu indeks saham di Bursa Saham London) menyatakan bahwa Inggris harus tetap berada di UE. Ini muncul karena nilai tukar poundsterling anjlok dan ini merupakan yang terburuk dalam tujuh tahun terakhir. Melemahnya poundsterling dipicu oleh Wali Kota London Boris Johnson yang memutuskan untuk mendukung Inggris keluar dari UE. British Exit akan mmemberi dampak negatif yang permanen dalam investasi, S&P (Standard of Poor) menyatakan bahwa jika benar Inggris keluar maka akan memangkas rating kreditnya yang saat ini tercatat AAA. Pemangkasan kredit dilakukan S&P guna memperingati Inggris, karena tentunya kota London sebagai pusat perbankan akan bergejolak.

Pasar finansial tentu berfokus pada ekonomi. Jalinan keduanya begitu erat, dilihat lebih dari 50% ekspor Inggris ditujukan pada UE namun tidak kebalikannya karena hanya 6,6% ekspor UE ditujukan ke Inggris. Tentunya jika telah resmi keluar dari UE, Inggris harus membuat jalinan kerja sama baru guna mengurangi hambatan pada tarif dan non-tarif yang lebih besar. Tentu negosiasi dengan pihak UE dapat dilaksanakan namun perjalanan menuju negosiasi terjal dan penuh ketidakpastian.

Mark Carney, gubernur Bank Sentral Inggris (BOE), menyatakn skenario terburuk British Exit yakni depresiasi Poundsterling akibat hengkangnya investor asing. Selain itu Carolyn McCall, Kepala Eksekutif maskapai Easy Jet mengatakan bahwa akan sulit bagi pemerintah Inggris untuk negosiasi hak terbang yang kini dimiliki Easy Jet dengan 27 negara anggota UE lainnya, bila kelak di cabut. Ian Roberston, Direktur Penjualan dan Pemsaran BMW menambahkan, bahwa sektor industri Inggris merupakan pasar paling beragam dan nomor empat terbesar di Eropa, tentunya akan sayang jika Inggris keluar dari UE. Selain itu Citi Bank menyatakan bahwa Inggris akan kehilangan 75,000 lapangan pekerjaan jika keluar dari UE.

Selain itu Nomura memperingatkan bahwa Inggris dapat mengalami resesi dan UBS memperingatkan bahwa Inggris akan kehilangan 0,6-2,8% GDP-nya. Deutsche Bank, HSBC dan JP Morgan Chase pun mengatakan akan memindahkan kantor pusatnya dari Inggris sehingga dapat mendatangkan kerugian finansial dan pengangguran. Bisa jadi hanya gertakan semata mengingat Inggris merupakan pusat perdagangan Forex (Foreign Exchange) dunia, dimana 40% transaksi dunia dilakukan di Inggris Di lain pihak pendapatan sektor perbankan penting bagi Inggris sebagai salah satu kunci penggerak perkenomian. Sekitar 8% dari GDP Inggris berasal dari sektor finansial dan menyerap sekitar 3,4% lapangan pekerjaan di Inggris.

Sedangkan dampaknya bagi perekonomian Indonesia akan berpengaruh pada investasi di Indonesia yang berasal dari negara-negara Britania Raya. Walaupun dampak tersebut tidak terlalu signifikan memberi perubahan di Indonesia, ini terasa berdampak besar tentunya di negara-negara Uni Eropa saja. Pengaruhnya pada Indonesia pun tidak bergantung secara permanen, namun hanya bersifat temporer atau berjangka pendek saja. (GT&GA)

Referensi :

http://tradingforexgold.net/apa-sih-brexit/

http://belajarforex.biz/dampak-ekonomi-inggris-keluar-uni-eropa/

http://m.detik.com/finance/read/2016/06/23/110841/3240174/1015/apakah-itu-brexit-apa-dampaknya-ke-indonesia

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160624_trensosial_brexit

http://m.kaskus.co.id/thread/576d0a04d44f9f167b8b4568/apasih-brexit-itu/

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *