july kajian

Reshuffle Kabinet Kerja Jilid II Kembali Angkat Sri Mulyani sebagai Menkeu Berikan Angin Segar Perekonomian Indonesia?

Akhir-akhir ini sering kita dengar istilah reshuffle pada media massa. Namun sudah pahamkah Anda dengan makna reshuffle itu sendiri? Bagi orang awam, terkadang masih bingung dengan istilah reshuffle, kemudian apa sih sebenarnya pengertian dari reshuffle kabinet itu? Maksud dari Reshuffle kabinet adalah pergantian atau perombakan kabinet yang dapat berupa pertukaran posisi menteri dari posisi satu ke posisi yang lain, maupun mengganti posisi menteri dengan orang yang baru. Pergantian menteri bisa didasari oleh banyak sebab, diantaranya karena kinerja yang dirasa kurang, adanya kekosongan posisi karena ditinggalkan, alasan politis, atau bisa karena faktor lainnya.[1]

Setelah 6 bulan masa pemerintahan tepatnya pada tanggal 27 Juli 2016, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo resmi melakukan reshuffle kabinet. Presiden Jokowi mengatakan, perombakan ini dalam rangka mengurangi kesenjangan ekonomi antara yang kaya dengan yang miskin. Perombakan ini diharapkan bisa menyelesaikan masalah perekonomian bangsa saat ini. Adapun seluruh nama yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai menteri dalam Kabinet Kerja Jilid II adalah sebagai berikut:

  1. Budi Karya Sumadi sebagai Menteri Perhubungan menggantikan Ignasius Jonan.
  2. Archandra Tahar sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggantikan Sudirman Said yang tak lagi masuk kabinet.
  3. Airlangga Hartarto sebagai Menteri Perindustrian menggantikan Saleh Husin.
  4. Muhadjir Effendy sebagai Menteri Pendidikan Nasional menggantikan Anies Baswedan.
  5. Eko Putro Sanjoyo sebagai Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, Desa, dan Transmigrasi menggantikan posisi rekan sesama partainya, Marwan Jafar.
  6. Asman Abnur sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menggantikan Yuddy Chrisnandi.
  7. Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan, menggantikan Bambang Brodjonegoro.
  8. Enggartiasto Lukita sebagai Menteri Perdagangan menggantikan Thomas Lembong.
  9. Wiranto sebagai Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan menggantikan Luhut Binsar Pandjaitan.
  10. Sofyan Djalil sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional menggantikan Ferry Mursidan Baldan.
  11. Thomas Lembong sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menggantikan Franky Sibarani.
  12. Franky Sibarani sebagai Wakil Menteri Perindustrian (posisi baru).
  13. Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman menggantikan Rizal Ramli.[2]

Dalam susunan menteri setelah adanya reshuffle Kabinet Kerja Jilid II tersebut, Sri Mulyani kembali dilantik sebagai Menteri Keuangan menggantikan Bambang Brodjonegoro. Sri Mulyani kembali menduduki posisi menteri setelah enam tahun menjabat sebagai Managing Director di Bank Dunia. “Mengenai Ibu Sri Mulyani, kita sudah kenal, memiliki pengalaman panjang dalam memimpin kelembagaan, dan jaringan internasional yang luas, “ kata Menteri Sekretaris Negara Praktikno Singgih, saat menjelaskan sosok menteri yang baru masuk ke kabinet.

Sebelumnya, saat Sri Mulyani menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Indonesia Bersatu, ia banyak menorehkan prestasi, diantaranya menstabilkan ekonomi makro, mempertahankan kebijakan fiskal yang prudent, menurunkan biaya pin­jaman dan mengelola utang serta mem­beri kepercayaan pada investor. Refor­masi Kementerian Keuangan dinahkodainya dengan baik sehingga banyak terjadi perubahan fundamental di Kementerian Keuangan mulai dari organisasi, SOP, SDM dan lain-lainnya. Ia dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006 oleh Emerging Markets pada 18 September 2006. Sejak tahun 2008, ia menjabat sebagai Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, setelah Menko Perekonomian Dr. Boediono dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia. Kemudian pada 1 Juni 2010 Sri Mulyani Indrawati menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.[3]

Namun gonjang-ganjing politik di Tanah Air dalam kasus Bank Century pada 2010 membuat Susilo Bambang Yudhoyono saat itu melakukan perombakan kabinet. SBY mengganti Sri Mulyani dengan Agus Martowardojo. Saat yang hampir bersamaan, Sri Mulyani mendapatkan tawaran dari Presiden Bank Dunia, Robert B. Zoellick untuk menduduki posisi Managing Director World Bank. Zoellick menganggap bahwa Sri Mulyani berhasil menuntun kebijakan ekonomi Indonesia dan dunia dengan sukses semasa krisis global, menerapkan reformasi kunci, serta sangat dihormati semua rekanan di seluruh dunia.[4] Kasus Century adalah cobaan terbesar bagi Sri Mulyani sebagai Menkeu. Isu besar yang kemudian bercampur politik ini mengantar keputusan Sri Mulyani untuk menyampaikan surat pengunduran diri kepada Presiden SBY pada 5 Mei 2010. Dia kemudian menerima pinangan Bank Dunia. Pada 1 Juni, dia resmi menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia. Di mana pun Sri Mulyani mengabdi, prestasi selalu dia ukir. Tahun 2016 saat Sri Mulyani menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Medan, Muhammad Pintor menerangkan, adanya nama Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan dalam susunan menteri Kabinet Kerja Jilid II ini akan memberikan angin segar. Apalagi Sri Mulyani memiliki citra yang cukup positif dan baik di wajah pelaku-pelaku ekonomi. “Banyak investor yang melihat Sri Mulyani masih mampu dan layak untuk melaksanakan tugasnya, terutama untuk pasar modal,” terangnya. Ia menuturkan, kembali munculnya nama Sri Mulyani juga memberikan angin segar untuk kebijakan Tax Amnesty yang memang saat ini sedang difokuskan. Citra baik Sri Mulyani kepada para investor dan pelaku usaha diharapkan bisa mendukung program Tax Amnesty tersebut.[5] Sri Mulyani diperkirakan bisa menjadi magnet penarik dana-dana yang berada di luar negeri untuk kembali pulang ke tanah air. Investor atau pemilik dana memerlukan sosok menteri ekonomi yang bisa mereka percayai, dan Sri Mulyani memenuhi persyaratan tersebut, mampu meningkatkan kepercayaan pasar mengingat track record Sri Mulyani yang minim dari cacat menjadi sentimen positif bagi pergerakan pasar.

Selain itu, pasar modal perlu dirangsang dengan peningkatan jumlah investor domestik. Pasalnya, kebijakan pemerintah yang mampu mendorong makin banyak perusahaan masuk bursa dan peningkatan jumlah pemodal domestik itu akan direspons positif pelaku pasar. Kepala Riset PT NH Korindo Securities Reza Priyambada dan Kepala Riset First Asia Capital David Sutyanto juga meyakini pasar sambut gembira kedatangan Sri Mulyani sebagai menkeu. “Kita berharap nama-nama yang baru bisa memberikan sentimen positif. Apalagi jika setelah diumumkan presiden, bisa kasih arahan atau road map mereka mau buat apa, itu akan lebih baik lagi,” ujarnya. Sementara, David juga mengatakan seharusnya kedatangan kembali Sri Mulyani menjadi katalis positif buat kinerja keuangan Indonesia. “’Apalagi ditambah pengalaman yang dimiliknya,” tambahnya.[6] Sebagian pelaku di industri pasar modal menilai sosok Sri Mulyani Indrawati layak bergabung dalam tim ekonomi kabinet Joko Widodo. Pasalnya, wanita sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai direktur pelaksana Bank Dunia ini dianggap sangat mengerti pasar. Pasar modal mengalami dua keuntungan, yang pertama dari dampak adanya tax amnesty dan yang kedua reshuffle yang memang diharapkan banyak pihak.

Nn    ewweDalam hal reshuffle kabinet ini, Presiden bebas menentukan pilihan siapa saja yang layak menjadi sebagai pembantunya dalam menjalankan roda pemerintahan. Namun yang utama adalah bahwa para menteri tersebut harus bekerja sepenuhnya untuk membantu Presiden dan memberikan manfaat kepada seluruh rakyat Indonesia. Harapan yang tentu saja juga terurai dari jutaan rakyat Indonesia. Meski reshuffle kabinet kali ini terkesan mendadak di tengah perekonomian yang melambat akibat devaluasi Yuan dan penguatan dollar AS – berakibat rupiah melemah, kiranya hal ini tidak menjadi penghalang bagi para menteri baru maupun lama untuk melanjutkan lagi kerja mereka demi memperbaiki perekonomian Indonesia karena tidak bisa dipungkiri bahwa ini menjadi kesempatan kedua bagi Presiden Jokowi untuk memulihkan lagi kepercayaan masyarakat.

Semua kalangan berharap bahwa perombakan Kabinet Kerja mampu membawa angin perubahan ke arah yang lebih baik terutama dalam bidang ekonomi dan hukum, dua bidang yang kini mendapat perhatian lebih dari masyarakat. Selain itu adanya perombakan Kabinet Kerja juga diharapkan mampu menjawab keresahan serta meningkatkan kembali kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Reshuffle Kabinet Jilid II ini harus bisa membangkitkan animo masyarakat dan menyegarkan kembali antusiasme masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi. (LL/SC)

Referensi :

[1] http://www.negeripesona.com/2016/01/pengertian-reshuffle-maksud-reshuffle.html

Referensi :

[2] http://nasional.kompas.com/read/2016/07/27/07380021/inikah.komposisi.baru.kabinet.kerja.hasil.reshuffle.jilid.dua

Referensi :

[3] http://www.kemenkeu.go.id/node/22275

[4] https://m.tempo.co/read/news/2016/07/27/078790914/janji-sri-mulyani-enam-tahun-lalu-ill-be-back

Referensi :

[5] http://www.rappler.com/indonesia/141079-sri-mulyani-kembali-jadi-menteri-keuangan

[6] http://www.beritasatu.com/pasar-modal/376640-pasar-sambut-positif-sri-mulyani-masuk-kabinet.html

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *