IORA

Potensi IORA Dalam Perekonomian Indonesia

Indian Ocean Rim Association (IORA) adalah pelopor dan satu-satunya organisasi regional di wilayah Samudera Hindia. Samudera Hindia berperan strategis terutama untuk ekonomi dunia dimana terhubungnya perdagangan internasional dari Asia ke Eropa dan sebaliknya yang saling menguntungkan satu sama lainnya. IORA berdiri berdasarkan pada pilar – pilar ekonomi, keamanan dan keselamatan maritim, dan pendidikan serta kebudayaan. Prioritas kerja sama dalam IORA diantaranya: Keselamatan dan Keamanan Maritim; Fasilitasi Perdagangan; Manajemen Perikanan; Manajemen Risiko Bencana Alam; Kerja Sama Akademis dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; Pertukaran Kebudayaan dan Pariwisata. Di luar prioritas tersebut, IORA juga mengangkat dua buah cross cutting issues yaitu Blue Economy dan Women Empowerment.

Saat ini, IORA beranggotakan 21 negara yaitu Afrika Selatan, Australia, Bangladesh, Komoros, India, Indonesia, Iran, Kenya, Madagaskar, Malaysia, Mauritius, Mozambik, Oman, Persatuan Emirat Arab, Seychelles, Singapura, Somalia, Sri Lanka, Tanzania, Thailand dan Yaman. Selain itu, IORA juga menggandeng 7 negara mitra dialog, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jerman, Mesir, Perancis dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Terdapat juga 2 organisasi peninjau di IORA yaitu Indian Ocean Tourism Organization(IOTO) dan Indian Ocean Research Group (IORG).

Indonesia secara resmi memegang jabatan sebagai ketua IORA periode 2015 – 2017 dengan Afrika Selatan sebagai Wakil Ketua pada Pada Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) ke – 15 di Padang.Indonesia adalah satu-satunya ketua IORA yang menetapkan tema selama masa jabatannya, yaitu “Strengthening Maritime Cooperation in a Peaceful and Stable Indian Ocean”.

Gagasan dan prakarsa strategis Indonesia pada masa jabatannya sebagai ketua yang telah disetujui: membentuk IORA Concord sebagai outcome strategis 20 tahun IORA; dan penyelenggaraan KTT IORA (one-off) pada Maret 2017. Dalam kapasitasnya tersebut, Indonesia menetapkan prioritas untuk memperkuat regionalisme di kawasan Samudera Hindia melalui pembentukan IORA Concord, pengarusutamaan gagasan Poros Maritim Dunia, memajukan kerja sama IORA dan isu lintas sektoral dan melanjutkan penguatan institusi. Selama masa jabatannya sebagai ketua, Indonesia berkomitmen untuk mengadakan program kegiatan konkrit bekerja sama dengan Kementerian dan Lembaga RI terkait, yaitu: The 3rd Indian Ocean Dialogue; International Symposium “IORA 20thAnniversary: Learning from Past and Charting the Future”;  IORA Business Innovation Center (BIC); IORA Guide for Investment; The 2nd Blue Economy Conference; Regional Workshop: “Interseksi Kebudayaan dan Peradaban  di Samudera Hindia” dan IORAG Cultural Expo[1].

Melihat dari keikutsertaan Indonesia di IORA, Indonesia sudah hampir 19 tahun menjadi anggota IORA semenjak tahun 1997 dan dipercaya sebagai Ketua IORA 2015-2017 yang memegang tanggung jawab untuk memimpin lembaga yang membawahi beberapa negara yg berasal dari Benua Asia, Benua Afrika, dan Benua Oceania yang berada di sekitar wilayah Samudera Hindia. Setelah Indonesia dikabarkan menjadi ketua, IORA menjadi sorot pandang media ditambah setelah terlaksananya Konferensi Tingkat Tinggi di Jakarta pada 5-7 Maret 2017 kemarin. Namun timbulnya pertanyaan mengenai bagaimana potensi IORA terhadap Indonesia utamanya pada perdagangan maritim, apakah melalui Indonesia yang menjadi ketua IORA mendapatkan dampak yang signifikan akan kemajuan perekonomian di Indonesia, serta bagaimana tindakan yang harus kita perbuat agar tujuan dari adanya kerjasama IORA dapat tercapai. Berbagai pertanyaan tersebut akan dibahas pada kajian kali ini.

Sudut Pandang Pemerintah pada IORA

Menurut pemerintah melalui Kementrian Perdagangan, IORA adalah kekuatan geopolitik dan geoekonomi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Perdagangan intra-regional IORA di tahun 2015 mencapai USD 777 miliar atau naik 300% dibandingkan tahun 1994 yang sebesar USD 233 miliar. Selain itu, Samudera Hindia merupakan 70% jalur perdagangan dunia, termasuk jalur distribusi minyak dan gas. IORA mencakup kurang lebih 2,7 miliar penduduk (35% dunia). Namun, perannya baru 12% pangsa pasar dunia, 10% PDB global, dan 13% tujuan penanaman modal asing (PMA). Sebesar 96% perdagangan intra-IORA dikuasai enam negara, yaitu Singapura, Malaysia, India, Indonesia, Australia, dan Afrika Selatan. Beberapa negara yang tengah menjadi perhatian penting Pemerintah Indonesia dalam hal perdagangan adalah Bangladesh, Kenya, Mozambik, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, dan Iran.

Bagi Kemendag, IORA sangat strategis dan sejalan dengan strategi diversifikasi pasar tujuan ekspor, hal ini sesuai dengan arahan Bapak Presiden Joko Widodo pada pembukaan Rakernas Perdagangan. Kemendag akan melakukan ekspansi atau pendalaman terhadap pasar-pasar baru yang potensial. Indonesia berpeluang membangun kemitraan lebih erat dengan anggota. Melalui IORA, Indonesia dapat menjajaki peningkatan cakupan jalinan kerja sama perdagangan bilateral dan multilateral dengan beberapa negara kunci, seperti Uni Emirat Arab, Afrika Selatan, Bangladesh dan Iran, serta Amerika Serikat dan Inggris[2].

Maka dari itulah, menurut Kementrian Perdagangan, IORA yang berupa kawasan Samudera Hindia adalah kawasan masa depan dunia. Saat ini menjadi momentum yang tepat mengingat pertumbuhan ekonomi beberapa negara anggota IORA terbilang tinggi.Peningkatan aktivitas perdagangan dan investasi IORA juga dapat semakin mendorong pertumbuhan ekonomi yang adil dan berkelanjutan, serta menciptakan lapangan kerja baru.

Indonesia sebagai Ketua IORA 2015-2017

Indonesia diberikan kepercayaan untuk menjadi ketua IORA periode 2015-2017.Pada masa kepemimpinan Indonesia, IORA memiliki visi jangka panjang.Pertama, memelihara momentum politik guna menjadikan IORA asosiasi yang kuat, efektif, dan efisien. Kedua, penguatan arsitektur regional yang memastikan dan menjaga keamanan dan perdamaian di Samudra Hindia. Ketiga, peningkatan kerja sama kolektif dan kemampuan bersama untuk mencapai kerja sama yang saling menguntungkan dan kesejahteraan bersama. Dan keempat, peningkatan kepastian untuk maju ke depan dalam kolaborasi dalam konteks IORA.

Indonesia sebagai ketua IORA juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat, dimana masyarakat menyadari akan potensi yang dimiliki oleh negara mereka, yang ternyata mampu dan dipercaya untuk memimpin suatu organisasi besar, yang nantinya akan menumbuhkan motivasi tersendiri pada masyarakat untuk berusaha menjadi lebih baik lagi dalam berperilaku dan bertindak ke depannya. Karena Indonesia menjadi sorot pandang dunia dan diperhatikan oleh berbagai negara melalui sikapnya dalam memimpin.

Tidak hanya itu, Indonesia berpeluang membangun kemitraan lebih erat dengan anggota IORA sebagai growing partners dan pasar ekspor nontradisional berbekal daya saing Indonesia pada peringkat 41 dunia. Contohnya, potensi ekspor di pasar Afrika mencapai USD 550 miliar pada 2016, namun realisasi ekspor Indonesia baru mencapai USD 4,2 miliar. Demikian juga potensi ekspor ke pasar Timur Tengah yang mencapai USD 975 miliar, namun baru terealisasi USD 5 miliar.

Setelah menjadi ketua, Indonesia mengambil berbagai tindakan kedepannya, kerja sama maritim antarnegara anggota IORA akan ditingkatkan, khususnya untuk mengatur perilaku negara-negara di lingkar Samudera Hindia. Untuk dapat menjadi negara dengan predikat Poros Maritim Dunia hal ini berarti negara Indonesia harus mengandalkan potensi perekonomian nasionalnya kedalam bidang maritim atau dengan kata lain sumber kehidupan negara tersebut berasal dari lingkup maritim. Indonesia sebagaimana diketahui memiliki kekayaan alam baik itu darat maupun lautan, hal ini menjadikan Indonesia dikenal sebagai laboratorium dunia atau dengan kata lain sebagai pusat keanekaragaman segala bentuk kehidupan. Dimana Indonesia banyak menyumbangkan informasi berharga yang dapat digunakan dalam bidang pembangunan ekonomi maupun peradaban maritim.

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) IORA

Terdapat tiga agenda krusial dalam KTT IORA di Jakarta pada tahun ini. Pertama, IORA akan menghasilkan perjanjian hukum dan norma dalam bentuk IORA Concord. Kedua, IORA Concord memiliki enam wilayah kerja sama penting dan aksi rencananya, yaitu keamanan maritim, perikanan, penanganan bencana alam, pendidikan, dan pariwisata di Samudra Hindia.Dan ketiga, deklarasi negara-negara IORA melawan kekerasan ekstremisme dan terorisme[3].

Pada Konferensi Tingkat Tinggi tersebut juga dilakukan penjajakan kerja sama perdagangan hingga investasi. Menteri Pariwisata, Arief Yahya memaparkan tawaran kerja sama pariwisata Indonesia yang potensial juga dilakukan dengan negara anggota dan mitra wicara IORA. Indonesia menawarkan kerja sama investasi di 10 destinasi pariwisata prioritas atau ‘10 Bali Baru’ kepada para investor dari negara anggota IORA 2017. Beliau berpendapat bahwa pariwisata dan konektivitas terus dikembangkan melalui pembangunan infrastruktur yang berkesinambungan dan merata di seluruh Nusantara, termasuk di 10 destinasi pariwisata prioritas yang dijadikan sebagai Bali baru. 10 Bali Baru tersebut diantaranya adalah Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, Tanjung Lesung di Banten, Kepulauan Seribu di DKI Jakarta, Candi Borobudur di Jawa Tengah, Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, Mandalika di Lombok, NTB, Labuan Bajo di Flores, NTT, Wakatobi, di Sulawesi Tenggara, dan Morotai di Maluku[4].

Arief menjelaskan bahwa Indonesia menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara pada 2019 menjadi 20 juta wisman. Untuk mendukung target tersebut, Indonesia telah mengeluarkan sejumlah regulasi antara lain, bebas visa kunjungan singkat kepada 169 negara, kemudahan izin masuk kapal yacht dan kapal pesiar ke perairan Indonesia dengan pencabutan Clearance Approval for Indonesia Territory.

Selain itu, Arief menekankan, konektivitas menjadi hal yang sangat penting untuk pencapaian target wisman sebanyak 20 juta pada 2019. Konektivitas udara dianggap sangat penting dalam mendukung pariwisata, mengingat sekitar 75 persen kunjungan wisman ke Indonesia menggunakan transportasi udara. Sehingga tersedianya seat pesawat yang cukup, menjadi kunci untuk mencapai target 2019.

 IORAa

IORA Business Summit (IBS) 2017

IORA Business Summit (IBS) merupakan bagian dari rangkaian IORA Summit 2017. IBS dilaksanakan pada 6 Maret 2017 di Jakarta Convention Center, Jakarta dan akan dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo. Beberapa Kepala Negara/Pemerintahan juga menyampaikan paparan pada IBS. Lebih dari 300 CEO, pebisnis dan wakil Kamar Dagang dan Industri negara anggota IORA berinteraksi dalam acara tersebut.

IBS mengangkat tema “IORA: Building Partnership for Sustainable and Equitable Economic Growth”. Adapun topik utama yang akan dibahas dalam IBS yaitu mendorong perdagangan dan investasi termasuk melalui UKM, pemberdayaan perempuan dalam kegiatan usaha, antara lain melalui inovasi, keterhubungan/konektivitas digital dan akses keuangan, mendorong pariwisata dan konektivitas IORA melalui pembangunan infrastruktur.

Salah satu usulan konkret pengusaha yang disampaikan melalui IBS antara lain harapan pembentukan IORA Business Travel Card (IBTC) yang mendukung mobilitas pengusaha dan memfasilitasi business-to-business links. Menurut Kementrian Perdagangan IORA Business Summit merupakan langkah nyata mewujudkan potensi kawasan yang selama ini belum tergarap optimal. Ada pertemuan G-to-G yang membahas payung kerja sama secara umum, ada forum B-to-B yang lebih konkret mewujudkan kerja sama yang saling menguntungkan. Inilah yang akan menjadikan IORA masa depan ekonomi dunia.

Kesimpulan dan Saran

Jika Indonesia menjadi sebuah negara dengan predikat Poros Maritim Dunia sudah seharusnya Indonesia memimpin dalam pelaksanaan setiap kegiatan bernuansa maritim. Pemerintah memiliki peran besar dalam pembentukan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia oleh karenanya dibutuhkan langkah untuk memperkuat institusi pemangku kepentingan, dimana hal ini agar Indonesia dapat menetapkan sasaran operasional dan menentukan upaya apa saja yang harus dilakukan agar sasaran dapat dilakukan. Oleh karena itu terdapat tiga poin penting yang harus diperkuat dalam institusi pemerintahan yakni mind-set yang berorientasi maritim, kompetensi maritim, dan kapabilitas maritim. Hal inilah yang mewajibkan pemerintah harus menumbuhkan kesadaran maritim di masyarakat luas. Seperti kita ketahui bahwa IORA merupakan  sebuah organisasi regional yang masih relative muda akan menjadi tantangan bagi Indonesia untuk mempengaruhi kawasan secara keseluruhan. Untuk itu, pemerintah perlu menyusun strategi yang tepat agar agenda yang akan ditawarkan Indonesia selama memimpin IORA dapat menguntungkan Indonesia sekaligus menguntungkan lebih banyak pihak di kawasan.

Pertanyaan yang terlintas selanjutnya adalah, apakah timbul dampak bagi masyarakat akan berbagai peristiwa mengenai IORA ini. Menurut kami, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, tentunya kerja sama Indonesia bersama berbagai negara melalui IORA ini tentunya memberikan dampak yang signifikan bagi perekonomian bangsa. Namun, apakah dampak yang positif ini mampu terus dapat kita pertahankan dan lestarikan. Tentunya masyarakat harus tahu posisi Indonesia di IORA dan mengetahui IORA itu apa. Tapi sampai sekarang banyak yang masih belum tahu IORA itu apa, dan apa saja fokus kerjasama antar negara di kawasan Samudera Hindia itu. Maka dari itu pemerintah perlu mensosialisasikan IORA serta program-programnya, utamanya memfokuskan ke kalangan pelajar terlebih dahulu, karena pelajar tentunya akan memegang peran vital nanti kedepannya. Apalagi Indonesia dipercaya sebagai Ketua IORA 2015-2017, tentunya ini menjadi acuan bahwa IORA sangat penting bagi Indonesia, karena dipercaya memegang tanggung jawab untuk memimpin lembaga yang membawahi beberapa negara yg berasal dari Benua Asia, Benua Afrika, dan Benua Oceania yang berada di sekitar wilayah Samudera Hindia.

Masyarakat perlu tahu juga bahwa bangsa mereka mampu memimpin suatu organisasi besar, supaya nantinya bisa menumbuhkan motivasi tersendiri untuk menjadi lebih baik dari sekarang. Diharapkan kekurangpahaman masyarakat tentang program yg di cetuskan di IORA bukan menjadi bumerang untuk membantu kemajuan Indonesia, contohnya seperti MEA 2015 yg diratifikasi tahun 2003, tetapi masyarakat Indonesia pada umumnya masih awam ketika ditanya tentang MEA itu sendiri. Jadi seperti kurang siap menghadapi globalisasi yg terjadi, tentu yg akan dinilai kinerja pemerintah dalam hal ini seperti apa. Maka kami rasa pemerintah sangat perlu sosialisasi ke masyarakat tentang IORA kedepannya.

Menurut pandangan kami sebagai mahasiswa, Indonesia sebagai ketua di IORA tahun 2015-2017, dengan rencana pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, menurut kami hal ini dapat membantu dalam mendukung kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tentang politik maritim itu sendiri. Tentu saja Indonesia bisa memadukan agenda kebijakan maritimnya melalui progam-program dari IORA, disamping itu juga kerjasama melalui IORA ini penting karena lingkupnya lebih besar dari ASEAN, negara-negara IORA yang penduduknya berjumlah 2,6 miliar dibandingkan penduduk ASEAN dengan jumlah 600 juta, mengartikan potensi ekonomi dari kerjasama IORA menjadi lebih besar.

Dalam kaitan ini, sebagai mahasiswa perlu kiranya mengamati strategi-strategi pemerintah untuk memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia di IORA sehingga kita dapat menganalisis dan belajar serta mengembangkan strategi tersebut dan sudah selayaknya kita mampu untuk memastikan bahwa keterlibatan Indonesia di Samudera Hindia tidak akan melemahkan kepemimpinan Indonesia di kawasan Asia Tenggara selama ini.

(Y/T)

BIDANG ILMIAH DAN LITBANG

BEM FEB UNIVERSITAS UDAYANA

2017

 

Referensi :

[1] http://www.kemlu.go.id/id/berita/Pages/Buku-Fakta-IORA-2017.aspx

[2] http://megapolitanpos.com/detail/3096/iora-adalah-kekuatan-geopolitik-dan-geoekonomi

[3] http://nasional.kompas.com/read/2017/03/07/23161391/kerja.sama.dan.tantangan.iora

[4] m.viva.co.id/berita/bisnis/890350-indonesia-tawarkan-10-bali-baru-di-ktt-iora-2017

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *