1479456058613

HADAPI MEA DENGAN PERBAIKAN SISTEM PENDIDIKAN

waktu yang berdetik tidak akan pernah berhenti, apalagi kembali pada mereka yang hanya berdiam diri

Asosiasi Bangsa-Bangsa Asia Tenggara didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di

Bangkok – Thailand, melalui Deklarasi ASEAN (Deklarasi Bangkok) oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand (ASEAn Founding Fathers). ASEAN merupakan sebuah wadah bagi negara-negara yang berada dikawasan Asia Tenggara dalam membentuk kerjasama secara regional dalam berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, budaya, keamanan dan lain sebagainya. Saat ini, ASEAN sudah memiliki 10 negara anggota yaitu 5 negara pendiri tersebut diatas serta Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Laos dan Kamboja. Pada tanggal 20 November 2007 di Singapura disepakati Piagam ASEAN yang mengubah forum kerjasama ini menjadi organisasi yang berbadan hukum.

Salah satu bentuk kerjasama yang dilaksanakan oleh ASEAN adalah kerjasama di bidang ekonomi. Sejalan dengan itu, perhatian difokuskan pada proses integrasi ekonomi menuju ASEAN Economic Community (AEC) 2015 dengan berpeoman kepada Cetak

Biru/AEC Blueprint yang disusun tahun 2007.

Indonesia telah berada pada era ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun 2015. Namun demikian, MEA 2015 bukan merupakan hal yang baru, melainkan suatu proses panjang sejak terbentuknya PTA tahun 1997. MEA 2015 adalah berwujudan integrasi ekonomi di kawasan ASEAN yang dinamis dan kompetitif dimana kesenjangan ekonomi antar negara semakin diperkecil.

Perwujudan MEA 2015 disangga oleh 4 pilar yaitu: (i) ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi, (ii) ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing ekonomi tinggi, (iii) ASEAN sebagai kawasan pengembangan ekonomi merata dan berimbang, dan (iv) ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi seara penuh dengan perekonomian global. 

Dalam menghadapai MEA 2015, Pemerintah Indonesia telah menerbitkan beberapa kebijakan yang bersifat lintas sektoral dan memberi perhatian khusus dalam meningkatkan daya saing, antara lain:

  1. Inpress No 5/2008 tentang Fokus Program Ekonomi tahun 2008-2009
  2. Inpres No 11/2011 tentang Pelaksanaan Komitmen Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN
  3. Keppres No 23/2012 tentang Sususnan Keanggotaan Sekretariat Nasional ASEAN
  4. Program pembangunan seperti MP3EI
  5. Program Sistem Logistik Nasional (Sislognas)
  6. Penyusunan Inpres dan Roadmap Daya Saing
  7. Policy Paper mengenai kesiapan Indonesia menghadapi AEC
  8. Pembentukan Komite Nasional AEC 2015
  9. Unit Kerja Presiden di Bidang Pengembangan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) –

Monitoring Langkah Pemerintah

Disamping itu, Kementrian Perdagangan (Kemendag) telah menerapkan tiga strategi non-tarif, yaitu pengamanan pasar domestik, Kemendag mengupayakan agar gangguan impor di perbatasan dapat diminimalisir dengan menerapkan disiplin impor. Untuk mengatasi gangguan impor, terutama terkaitdengan illegal trading, dibentuk post-audit mechanism dan penerapan kepatuhan standar sesuai dengan ketentuan WTO. Dalam hal optimalisasi penyerapan dalam negeri, Kemendag berupaya melakukan pengamanan pasar domestik melalui peningkatan kualitas produk domestik dan promosi penggunaan produk dalam negeri.

MEA seiring perkembangannya membawa dampak postif yang seakan menjadi peluang bagi Indonesia seperti misalnya:

  1. Jumlah penduduk Indoensia yang merupakan terbesar di kawasan ASEAN berpotensi menjadi pasar dunia
  2. Indonesia berpeluang menjadi negara eksportir yang besar di dunia karena keanekaragan yang dimiliki seperti: rempah-rempah, kerajinan, ikan dan produk perikanan.
  3. Karena luasnya Indonesia dan beramgamnya kekayaan yang dimiliki, Indonesia berpeluang menjadi negara tujuan investor
  4. Indonesia berpeluang besar untuk mengembangkan industri seperti industri elektronik yang mampu meningkatkan daya saing Indonesia
  5. Sektor jasa yang terbuka. Tenaga kerja terampil Indoenesia (Akuntan, dokter, perawat, arsitek dsb) yang jumlahnya cukup besar memiliki peluang untuk bekerja di perusahaan bertaraf internasional yang tersebar di kawasan ASEAN. Disamping itu, sektor jasa

Indonesia yang berpeluang dalam pasar ASEAN adalah bidang kontruksi, kesehatan, eASEAN, logistik, transportasi udara, dan pariwisata.

  1. Aliran modal. Rezim investasi yang semakin terbuka dengan tingkat kepemilikan ekuitas asing mencapai 70% dan didukung oleh sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berlimpah menjadikan Indonesia sebagai daya tarik bagi investor asing untuk menamkan modalnya di Indonesia.

Namun, ibarat pisau bermata dua, peluang sekaligus dampak positif diatas datang bersamaan dengan dampak negatif apabila kita tidak mampu untuk bersaing di era MEA.

MEA ibaratnya sebuah seleksi alam, siapa yang mampu bertahan dan bersaing maka dialah yang tetap ada. Suatu bangsa yang memiliki luas yang sangat besar dan keanekaragaman yang amat banyak, tidaklah akan berati apabila penggerak atau sumber daya manusia yang mampu mengelola sema itu dengan baik. Salah satu kendala terbesar sekaligus kenyataan pahit yang harus diterima Indonesia saat ini adalah sumber daya manusia di Indoensia berada pada urutan ke-5 di ASEAN setelah Singapura Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand. Dan fakta yang lebih mengejutkan lagi bahwa sekitar 70,40% tenaga kerja di Indonesia hanya lulusan Sekolah Dasar.

Masalah mutu sumber daya manusia sangat mempengaruhi kinerja industri nasional. Bagaimana suatu negara bisa menciptakan suatu kinerja industri nasional yang baik jika suber daya manusia yang ada belum mumpuni dan ahli dibidang tersebut. Memang dalam menghadapai MEA Indonesia menghadapi beberapa tantangan dan kendala seperti misalnya masalah neraca perdagangan yang masih defisit; produk primer mendominasi ekspor Indonesiake ASEAN; impor terbesar Indonesia dari ASEAN adalah bahan baku penolong dan barang modal berkisar 91% dari total impor Indonesia dari ASEAN; masalah Index Daya Saing Indnesia yang berada di urutan ke-34.

Namun, akar permasalahan dari hal tersebut diatas sekali lagi adalah bagimana mutu dari SDM yang dimiliki Indonesia. Bila SDM yang dimiliki kualitas yang baik, maka masalahmasalah diatas dapat diatasi dengan baik. Namun masalah pendidikan yang ada tidak terlepas dari masalah rantai kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Kemiskinan dan pendidikan yang rendah saling berkaitan satu dengan yang lain. Karena rendahnya tingkat pendidikan ini, diharapkan pemerintah untuk segera mencari solusi bagi masalah ini, dengan perbaikan sistem pendidikan yang ada. Karena rendahnya pendidikan merupakan akar dari segala masalah yang ada.

Selain itu, mutu SDM yang ada juga ditentukan dari bagaimana keterampilan yang dimiliki SDM tersebut. 7,20% masyarakat Indonesia yang mampu mengecap pendidikan tinggi jangan berpuas diri dulu lantas percaya diri dengan hanya berbekal ijazah yang dimiliki. Kemampuan keterampilan seperti soft skill juga sama pentingnya dengan pendidikan formal yang wajib dimiliki oleh setia SDM agar mampu bersaing di era MEA ini. Pemerintah juga sebaiknya lebih mampu memfasilitasi peningkatan keterampilan ini dengan adanya pelatihan-pelatihan yang bisa mendongkrak keterampilan bagi para SDM. Pelajaran mengenai keterampilan yang dianggap wajib dimiliki oleh setiap lulusan agar mampu bersaing nanti juga bisa dijadikan mata pelajaran wajib di sistem pendidikan Indonesia bila dipandang perlu untuk dilakukan.

MEA bukan merupakan sesuatu yang menyeramkan sehingga harus ditakuti. MEA seharusnya disambut dengan suka cita bahwa artinya kita mampu mengepakan sayap dan mampu bersaing lebih tinggi lagi. Melakukan segala sesutau yang bisa dilakukan, dan jangan hanya berdiam diri, karena MEA tidak akan berpihak pada mereka yang hanya menjadi penonton dan pendengar”. (GT/GA)

Download klik here hadapi-mea-dengan-perbaikan-sistem-pendidikan

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *