368592

Pembukaan Pendaftaran “3rd Equilibrium Art Competition”

368592

[PEMBUKAAN PENDAFTARAN]

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana dengan bangga menghadirkan 🎭 3rd Equilibrium Art Competition 🎭 yang mengadakan tiga perlombaan yaitu :
1. Lomba Reong Berpasangan + Makendang Tunggal
2. Lomba Tari Legong Kuntul
3. Lomba Akustik

Informasi pendaftaran :
📆 24 Mei s.d. 18 Juni 2018
🕒 15.00 – 18.00 WITA
🏠 Sekretariat Bersama LMFEB Unud, Jln. P. B. Sudirman, Denpasar

Untuk Pendaftaran Online bisa dikirimkan melalui email eacfebunud@gmail.com

📌Formulir pendaftaran dapat diunduh pada link berikut :
Formulir Pendaftaran 3rd EAC

📌Pedoman Lomba dan Persyaratan dapat diunduh pada link berikut :
Pedoman Lomba dan Persyaratan EAC

So, tunggu apa lagi? Ayo daftarkan timmu! Jangan sampai kehabisan waktu! Rebut piala dan hadiah jutaan rupiah!🙌

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Official Account kami :
Line : http://line.me/ti/p/~@ddm3364h
IG : eacfebunud
Twitter : @eacfebunud
Facebook : Equilibrium Art Competition FEB Unud

CONTACT PERSON :
👤 Pradnya Utami
📞081239160727
(line) pradnyautamii
👤 Tiya Kirana
📞082247278548
(line) Tiyakirana
👤 Adi Wikan
📞087862441248
(line) adiwikan

S__56680470

[PENDAFTARAN 5TH EQUILIBRIUM SPORT LEAGUE]

S__56680470

Halo Civitas Ekonomi 🙌
Salam olahraga!

Pendaftaran 🏆5th Equilibrium Sport League🏆 segera dibuka🎉
Pendaftaran akan dimulai pada :
📆 Senin, 30 April 2018 s.d Minggu, 13 Mei 2018
🕒 15.00 s.d. 18.00 WITA
📍 Sekretariat Bersama LMFEB Unud

Untuk syarat dan ketentuan dapat dilihat pada pamflet di atas 😊

Ayo jangan sampai ketinggalan!!
Segera daftarkan tim progam studimu untuk berkontribusi dalam,
5th Equilibrium Sport League

IMG_5594

Alur Pendaftaran PKKMB, GET, INISIASI, BSM 2018 Mahasiswa Baru Jalur SNMPTN dan SBMPTN

S__8060932

Hallo Civitas Ekonomi!

Diumumkan untuk seluruh Mahasiswa Baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, berikut merupakan alur pendaftaran PKKMB, GET, dan INISIASI yang merupakan rangkaian kegiatan sosialisasi almamater di tingkat fakultas, dan BSM yang merupakan kegiatan pengabdian masyarakat di tingkat fakultas.

Peserta mengisi formulir pendaftaran online di web http://orientasi.unud.ac.id

⚠️Jadwal pengisian form online⚠️
a. Gelombang I : Tanggal 3 – 5 Juli 2018 (Jalur SNMPTN)
b. Gelombang II : Tanggal 21 – 23 Juli 2018 (Jalur SBMPTN)

⚠️Jadwal verifikasi berkas⚠️
a. Gelombang I : Tanggal 9 – 11 Juli 2018 (Jalur SNMPTN)
b. Gelombang II : Tanggal 24 – 27 Juli 2018 (Jalur SBMPTN)

⚠️Verifikasi dibuka pukul 09.00 – 16.00 WITA.
Berkas – berkas yang harus dibawa⚠️
a. Membawa formulir pendaftaran online (2 lembar)
b. Lampiran civitas oranye (2 rangkap)
c. Pas foto ukuran 3×4 berwarna, menggunakan kemeja putih tanpa jas dengan latar orange (2 lembar)

⚠️Jika terjadi masalah dalam pendaftaran, silakan datang ke stand pengaduan. Stand pengaduan dibuka pada⚠️
a. Gelombang I : Tanggal 9 – 11 Juli 2018 (Jalur SNMPTN)
b. Gelombang II : Tanggal 24 – 27 Juli 2018 (Jalur SBMPTN)
NB:

Semua kegiatan bertempat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Kampus Sudirman, kecuali pendaftaran online.
Berkas diurut sesuai dengan yang telah diuraikan

1. Ukuran kertas yang digunakan untuk form adalah F4
2. Semua berkas dimasukkan ke dalam map
🔵Putra: Biru
🔴Putri: Merah

 

Lampiran civitas oranye dapat didownload di http://bemfeb-unud.com/ atau http://fe.unud.ac.id

Ayo siapkan diri kalian dari sekarang!

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Official Account kami ⬇️⬇️⬇️
line.me/ti/p/~@nne6923w

 

S__14770196

REKAM JEJAK : TRAGEDI TERORISME DI INDONESIA

S__14770196

S__14770197

S__14770198

S__14770199

[ INDONESIA DARURAT ]

Halo Generasi Penerus Bangsa🙆
Generasi yang menjadi tulang punggung perjuangan.

Tentunya kalian sudah tau, bagaimana kondisi negara tercinta Indonesia saat ini?

Yaps, Indonesia kembali mendapat serangan terorisme 😲😲
Serangan teroris ini sebenarnya sudah mulai sejak tahun 1981 silam. Lalu, mengapa sampai saat ini masih saja terjadi?? Padahal Indonesia sudah memasuki masa kemerdekaan?

Apa yang terjadi pada negara tercinta ini? Apakah benteng yang dibangun selama ini kurang kokoh? Atau kurang tegasnya kebijakan akan hukum?

Sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman, harusnya kita mampu membangun benteng yang tinggi dan melindungi rumah kita dari serangan luar. Namun apa daya, hukum di negara ini sangat lemah!!

Salah satunya ialah hukum terkait terorisme itu sendiri.
Belakangan ini, Indonesia diramaikan dengan desakan pengesahan Undang Undang Terorisme. Tentu akan timbul pertanyaan mendasar perlunya revisi dan pengesahannya undang undang terorisme. Kenapa demikian??
📍 Dengan disahkan RUU Terorisme, kepolisian memiliki payung hukum untuk melakukan tindakan preventif dalam sejumlah aksi teror. Dalam UU yang ada saat ini pihak kepolisian baru bisa bertindak apabila para teroris telah beraksi.
📍 Selama ini terdapat batasan undang-undang terkait terorisme, sehingga ruang gerak aparat keamanan negara dalam mengatasi masalah terkait terorisme menjadi terbatas. Oleh karena itu, revisi terhadap undang-undang tersebut sangat diperlukan. Dengan adanya revisi terhadap undang-undang terkait terorisme tersebut, aparat keamanan mampu melakukan tindakan preventif untuk mencegah adanya aksi-aksi terorisme.

Selain itu, adanya sifat radikalisme dan rasis diantara golongan tertentu memudahkan munculnya aksi terorisme.

Selama perjalanan kemerdekaan Indonesia hingga kini, telah terjadi berbagai serangan Terorisme yang tidak sedikit memakan korban dan menimbulkan perselisihan. Rekam jejak aksi terorisme di Indonesia dapat diliat pada pamflet diatas⬆️⬆️

Jangan biarkan serangan terorisme datang lagi, tegakkan segala kebijakan yang pasti tanpa harus menunggu kehancuran menggerogoti ❗

#JAYAEKONOMI
#BEMFEBUNUD
#SPIRITINDEVOTION
#PENDIDIKANDANLITBANG

 

 

 

 

S__55091220

Pengumuman Daftar Panitia Pelaksana Gema Equilibrium Termuda (GET) 2018

70

[Pengumuman Daftar Panitia Pelaksana Gema Equilibrium Termuda (GET) 2018]

Halo Civitas Ekonomi!✨
Kami mengucapkan selamat bergabung dalam kepanitiaan Gema Equilibrium Termuda (GET) 2018 bagi yang lolos seleksi. Untuk yang belum lolos seleksi, jangan berkecil hati karena masih banyak peluang di kepanitiaan lain. Kepada panitia yang terpilih kami mengucapkan selamat bekerja! Mari bekerjasama untuk menyukseskan acara Gema Equilibrium Termuda (GET) 2018!

Untuk pengumuman selengkapnya bisa diunduh di link berikut :
DAFTAR PANITIA PELAKSANA GET 2018

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi narahubung di bawah ini :
📲 Dek Rian : 085738444124
🆔 Line : rianmahendra_
📲 Etik : 087860449663
🆔 Line : etiputrika

gempita new info lomba 2 YES YOSSSS BULAN MEI

INFO LOMBA III

gempita new info lomba 2 YES YOSSSS BULAN MEI

[GEMPITA]

Halo Civitas Ekonomi!‍🙋

Bagi kalian yang ingin mengukir prestasi dengan berkompetisi, yuk lihat dan ikuti berbagai lomba menarik pada link berikut ini:

Daftar Info Lomba III

Semoga bermanfaat dan selalu pupuk jiwa pantang menyerah serta tetap semangat!

Find us :

Web                : bemfeb-unud.com

Ig                     :  bemfebunud

Line                 : @nne6923w

Twitter            : @bemfebunud

Facebook        : Bem Feb Unud

#JAYAEKONOMI

#SPIRITINDEVOTION

#BEMFEBUNUD

#BIDANGHUMAS&PROTOKOLER

finally

Budaya Patriarki : Adat dalam Balutan Kesetaraan Gender

finally

Oleh:

Badan Eksekutif Mahasiswa

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Udayana

 

“Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas,

tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.”

– R. A. Kartini

 

      Perempuan merupakan sosok yang seharusnya memiliki kesempatan yang sama seperti kaum laki – laki. Sebuah kesempatan dimana perempuan juga memiliki hak yang sama dengan apa yang seharusnya ia dapatkan dengan mewujudkan kesataraan gender. Kesataraan gender merupakan kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan nasional, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut[1]. Namun, di Indonesia sendiri kesetaraan gender belum sepenuhnya diterapkan di seluruh daerah. Salah satunya di Bali. Provinsi Bali sendiri secara sadar maupun tidak sadar masih mengimplementasikan budaya patriarki. Budaya patriarki sendiri merupakan budaya yang menempatkan posisi laki – laki lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan.

   Budaya patriarki menerapkan sistem dimana suara laki – laki lebih dipertimbangkan dibandingkan suara perempuan. Budaya ini berlaku di lingkungan masyarakat, ekonomi, politik, dan sebagainya. Budaya patriarki sendiri secara tak langsung menjadi salah satu penyebab adanya kasus kekerasan terhadap perempuan. Hal ini dikatakan sendiri oleh Wakil Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah[2]. Yang juga diperkuat dengan adanya Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 mengenai Perkawinan. Pada pasal 4 UU Perkawinan dinyatakan bahwa seorang suami diperbolehkan beristri lebih dari seorang apabila istri tidak dapat menjalankan kewajibannya, mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak dapat melahirkan keturunan. Namun, tidak ada pasal yang menyatakan dan mengatur jika hal tersebut berlaku sebaliknya agar perempuan juga mendapatkan hak yang sama jika hal tersebut terjadi pada mereka. Misalnya, seorang suami memiliki kewajiban sebagai kepala rumah tangga. Salah satu dari kewajibannya adalah menafkahi keluarga. Namun pada kenyataannya, ada beberapa suami yang tidak memenuhi kewajibannya dengan baik dan tidak mendapatkan konsekuensi. Hal ini yang sebenarnya mendukung kurangnya penerapan kesetaraan gender di Indonesia.

     Sejatinya hingga saat ini, budaya patriarki masih langgeng untuk tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari berbagai ruang lingkup seperti pendidikan, ekonomi, politik dan hukum. Masih berkembangnya budaya patriarki berdampak pada timbulnya berbagai permasalahan sosial di Indonesia yang membelenggu kebebasan perempuan dan melanggar hak-hak perempuan. Banyak yang mejadikan perempuan sebagai indikator penilaian perkembangan dan kemajuan suatu negara, baik dari kualitas pendidikan, kebahagian, dan perlindungan kepada perempuan. Namun, tetap saja pemahaman bahwa perempuan berada pada posisi kedua dan anggapan bahwa perempuan adalah kaum yang lemah masih berkembang di masyarakat. Walaupun Indonesia sendiri terdapat undang-undang dan lembaga yang mengatur mengenai perlindungan perempuan dan anak. Hal tersebut belum dapat menjamin bahwa permasalahan sosial dan pelanggaran hak perempuan dapat ditanggulangi.

 

BUDAYA PATRIARKI DI BALI

     Sejak masa lampau, budaya masyarakat dunia telah menempatkan laki-laki pada hierarki teratas, sedangkan perempuan menjadi kelas nomor dua. Ini terlihat pada praktik masyarakat Hindu misalnya, pada zaman Vedic 1500 SM, perempuan tidak mendapat harta warisan dari suami atau keluarga yang meninggal. Pada era penjajahan Belanda maupun Jepang, perempuan dijadikan sebagai budak seks bagi tentara-tentara asing yang sedang bertugas di Indonesia. Serta terdapat peraturan yang melarang perempuan mengenyam pendidikan, kecuali mereka berasal dari kalangan priyayi atau bangsawan.[3] Sebagaimana halnya hegemoni budaya patriarki terhadap pemikiran dunia. Budaya patriarki juga mewarnai adat budaya yang ada di Bali, sebagaimana yang disampaikan oleh Holleman dan Koentharaningrat dalam Sudarta, bahwa Kebudayaan Bali identik dengan sistem kekerabatan patrilineal.

     Pandangan Hindu yang memuliakan perempuan sangat kontradiktif dengan tradisi dan hukum adat yang ada di Bali. Dimana dalam tradisi dan Hukum Adat Bali belum mencerminkan adanya kesetaraan gender. Hal ini dapat dilihat dalam hal kedudukan laki-laki dan perempuan dalam pewarisan, perkawinan, mendapat pendidikan, keterlibatan dalam angkatan kerja dan perannya dalam kehidupan sosial di masyarakat. Dalam kehidupan sosial masyarakat laki-laki Bali memiliki kedudukan dan peranan yang diistimewakan. Hal ini dapat dilihat dalam mengambil keputusan penting di masyarakat hanya laki-laki yang berhak untuk memutuskan sedangkan perempuan hanya menerima hasil keputusan tersebut.

     Demikian juga dalam hal pewarisan di dalam keluarga hanya anak-laki-laki yang berhak mewarisi, sedangkan perempuan hanya sebagai penikmat tanpa punya hak atas warisan. Hal yang sama juga terhadap status kepemilikan anak semuanya jatuh pada pihak laki-laki.[4] Dalam penerapannya, hukum adat di Bali masih sangat bertolak belakang dengan adanya kesetaraan gender. Terutama dalam hal perkawinan, adanya konsep purusa predana yang dianut oleh Masyarakat Bali sebagai refleksi dari ajaran Agama Hindu tentang jiwa (purusa) yang identik dengan laki-laki dan material (predana) yang identik dengan perempuan. Tetapi akan keliru jika konsep predana dan prakerti ini diidentikkan dengan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial. Karena pada kenyataannya setiap manusia dalam Pandangan Hindu disebut bhuwana alit memiliki kedua asas tersebut. Kekeliruan dalam merefleksikan pemahaman akan konsep purusa dan predana menimbulkan adanya ketimpangan dan ketidakadilan terhadap perempuan di Bali, terutama dalam adat perkawinan di mana perempuan (predana) dianggap lebih rendah kedudukannya dari pada laki-laki (purusa), sehingga perempuan Hindu di Bali sering dikatakan sebagai “Pewaris tanpa warisan”. Perempuan yang sudah menikah akan sepenuhnya menjadi hak milik laki-laki yang menikahinya dan keluarga pihak laki-laki, lalu warisan dari pihak laki-laki adalah sepenuhnya menjadi miliki suami yang nantinya akan diwariskan kembali kepada anak laki-laki dalam keluarga itu. Ketimpangan atau diskriminasi antara laki-laki dan perempuan di Bali juga tercermin dari kata-kata yang dipakai pada saat seorang laki-laki meminang si perempuan yaitu dengan mengunakan kata “ngayahin” yang diartikan sebagai “melayani”. Tidak hanya dalam perkawinan, dalam perkembangan zaman yang semakin modern ternyata belum mampu mengubah paradigma berpikir Masyarakat Bali secara signifikan, sehingga saat ini keluarga yang hanya memiliki anak perempuan dikatakan akan terancam putung (tidak memiliki penerus keturunan), hal ini terjadi karena sulitnya bagi laki-laki baik dari dirinya maupun dukungan keluarga yang mau nyentana atau nyeburin (laki-laki setelah menikah menjadi milik keluarga perempuan). Dalam pandangan Masyarakat Bali yang merupakan bagian dari budaya partriarki dengan menikah nyeburin (nyentana) laki-laki kehilangan haknya menjadi kepala keluarga dimana kedudukannya dalam keluarga dianggap lebih rendah dari perempuan. Budaya Patrilineal pada khususnya memengaruhi Hukum Adat Bali yang menjadi faktor terjadinya diskriminasi terhadap kaum perempuan di Bali. Budaya Patrilineal merupakan suatu adat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ayah atau pihak laki-laki. Dimana pengaruh budaya patrilineal ini menyebabkan tidak semua orang tua mau memberikan kesempatan kepada anak perempuannya baik dalam hal pewarisan maupun untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dengan argumen bahwa nantinya anak perempuannya akan menjadi milik orang lain.[5]

     Masih adanya pandangan bahwa perempuan tidak perlu memiliki pendidikan yang tinggi karena ujung-ujungnya akan menikah dan ikut dengan suami merupakan salah satu faktor. Selain hal tersebut, faktor lain yang juga mempengaruhi dibatasinya gerak perempuan di bidang pendidikan yaitu karena adanya keterbatasan ekonomi, masih rendahnya pemahaman orang tua bahwa pendidikan bagi perempuan juga sama pentingnya dengan laki-laki. Jika kita lihat tingkat angka melek huruf dari 7 kabupaten di Bali berdasarkan data bps.co.id berfluktuasi dari tahun ke tahun pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2015. Dalam hal ini jumlah angka melek huruf perempuan Bali mengalami penurunan pada tahun 2013 sampai tahun 2014. Dari data tersebut perempuan Bali saat  ini memang telah merasakan pendidikan yang cukup. Namun jika dilihat lebih dalam pada jenjang pendidikannya masih terlihat jelas, di tingkat sekolah dasar jumlah perempuan mengenyam pendidikan jauh lebih besar dibandingkan tingkat perguruan tinggi,.

     Selain itu perempuan Bali sesungguhnya telah berpartisipasi dalam dunia kerja namun jumlahnya masih terlalu rendah dibandingkan dengan partisipasi laki-laki. Menurut data BPS provinsi Bali yang menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia kerja di Bali telah mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya jumlah proyeksi penduduk. Namun, meningkatnya jumlah penduduk dalam angkatan kerja tidak berjalan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk usia kerja, dimana dari data bpd.go.id jumlah penduduk dalam angkatan kerja mengalami fluktuasi sedangkan data jumlah penduduk usia kerja mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dari data statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa peningkatan atau penurunan data jumlah penduduk perempuan yang bekerja seiring dengan jumlah penduduk perempuan angkatan kerja. Tingkat partisipan angkatan kerja perempuan mengalami penurunan diikuti dengan tingkat penganggurannya. Hal ini terjadi karena peningkatan pada bagian bukan angkatan kerja perempuan, sehingga mengakibatkan penurunan pada jumlah angkatan kerja perempuan meskipun pada tahun tersebut jumlah usia kerjanya mengalami kenaikan. Dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan perempuan Bali untuk bekerja pada sektor public, menunjukkan tingkat pendidikan dan pendapatan keluarga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan perempuan untuk bekerja. Melihat angka perempuan yang dapat menempuh pendidikan tinggi masih rendah menjadikannya salah satu faktor penyebab rendahnya perempuan untuk terjun ke dunia kerja.[6]

     Padahal jika mau dikembangkan, banyak perempuan bali mempunyai potensi yang tidak kalah hebat dari laki-laki. Salah satunya berdasarkan sumbangan pendapatan perempuan menurut data statistik data tersebut menunjukkan perempuan di Bali telah berkontribusi. Menurut Badan Pusat Statistik provinsi Bali pada tahun 2015 sumbangan pendapatan perempuan yaitu sebesar 36.39%. Sumbangan pendapatan terbesar terdapat pada sektor perdagangan, rumah makan dan hotel. Walaupun dalam sektor tersebut peranan perempuan masih sebatas pekerja kasaran seperti pelayan, pembantu atau sebagai juru masak. Namun, beberapa data menunjukan bahwa perempuan mampu menjadi top manager atau bahkan menjadi owner dari sektor tersebut. Menurut data BPS tahun 2015, ada sekitar 393.839 jiwa perempuan yang berkontribusi atau menyumbangkan pendapatannya. Sebuah data menunjukan presentase kontribusi pendapatan seorang perempuan dalam keluarganya di sebuah kelurahan Kapal Mengwi yaitu sebanyak 51% – 75% pendapatan di keluarganya disumbangkan oleh sang istri. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat besar bagi peningkatan kualitas hidup keluarga. Menurut Alatas (1990), peningkatan partisipasi wanita dalam kegiatan ekonomi karena disebabkan oleh yaitu masyarakat menyadari bahwa pendidikan sama pentingnya bagi kaum wanita agar dapat berpartisipasi dalam pembangunan dan kemauan wanita untuk mandiri dan berusaha membiayai kebutuhan hidupnya, serta motivasi untuk membantu kebutuhan hidup anggota keluarganya yang menjadi tanggungannya.[7]

     Beberapa pembahasan diatas menunjukan apabila perempuan Bali dapat mengenyam pendidikan dan mampu menghasilkan suatu pendapatan hasil dari pendidikan yang dijalani, tentunya perempuan Bali mampu membantu menjalankan roda perekonomian bagi setiap keluarga. Turut serta sosok perempuan dalam ranah perekonomian akan menjadikan perempuan memiliki peran ganda dalam keluarga. Dimana ia juga berkewajiban dan memiliki peran penting sebagai ibu rumah tangga. Namun, apabila potensi perempuan untuk turut serta dalam menjalani roda perekonomian maupun mengenyam pendidikan yang tinggi dipupuskan hanya karena budaya patriarki yang masih dijunjung tinggi, maka setiap keluarga akan kehilangan peluang untuk membawa keluarga ke masa depan yang lebih baik.

DAMPAK BUDAYA PATRIARKI DI MASYARAKAT

      Ketidaksetaraan gender antara peran laki-laki dengan perempuan ini menjadi salah satu hambatan struktural individu dalam masyarakat tidak memiliki akses yang sama. Pembatasan peran perempuan akibat budaya patriarki membuat perempuan mendapat perlakuan diskriminasi Lemahnya perlindungan hukum terhadap perempuan, secara tidak langsung juga menempatkan posisi perempuan terancam dan tidak mendapat pengakuan. Aspek historis dan budaya menempatkan perempuan sebagai pihak yang dinomor duakan, dimana ia ditundukan melalui hubungan kekuasaan bersifat patriarkat, baik secara personal maupun melalui pengaturan negara.

     Praktik budaya patriarki masih berlangsung hingga saat ini ditengah berbagai gerakan feminis dan aktivis perempuan yang gencar menyuarakan serta menegakan hak perempuan. Dampak dari praktik ini menimbulkan berbagai masalah sosial di masyarakat seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pelecehan seksual, meningkatnya angka pernikahan dini dan stigma mengenai perceraian. Dampak dari budaya patriarki di Indonesia masuk dalam system blame approach, yaitu permasalahan yang diakibatkan oleh sistem yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan atau harapan.[8]

     Berbagai kasus kekerasan yang menjadikan perempuan sebagai korbannya terjadi akibat dari ajegnya budaya patriarki yang masih melekat sebagai pola pikir di masyarakat. Budaya patriarki memberikan pengaruh bahwa laki-laki itu lebih kuat dan berkuasa dibandingkan perempuan. Hal ini menimbulkan paradigma bahwa dalam rumah tangga istri memiliki keterbatasan dalam menentukan pilihan atau keinginan dan memiliki kecenderungan untuk menuruti semua keinginan suami mereka, sekalipun itu tidak baik. Kekerasan yang dilakukan oleh kaum laki-laki terhadap perempuan menciptakan sebuah konstruksi sosial bahwa pihak perempuan adalah pihak yang lemah. Potret budaya bangsa Indonesia yang menganut patriarki masih sangat tidak menguntungkan posisi perempuan sebagai korban kekerasan.3

     Pada kasus pelecehan seksual, perempuan justru menjadi objek sasaran kesalahan dari sebuah kejadian. Perempuan menjadi pihak yang disalahkan, entah itu berkaitan dengan cara berpakaian, tingkah laku, waktu kejadian pelecehan, atau justifikasi yang tidak menempatkan laki-laki sebagai pelaku. Selain kasus tersebut, terdapat pengaruh dari budaya patriarki dan konstruksi sosial yang dibentuk oleh masyarakat mengenai pernikahan dini, seperti perempuan adalah penerima nafkah dan hanya berkecimpung di sektor domestik. Sebagian besar dari mereka berstatus sebagai ibu rumah tangga dan cenderung tidak produktif sama sekali. Mereka tidak diberikan kesempatan untuk meneruskan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi atau mengembangkan bakat serta kemampuan yang mereka miliki. Perempuan tidak memiliki kebebasan untuk melakukan penolakan karena alasan di beberapa kebiasaan adat, dimana jika perempuan menolak untuk dinikahi ia akan dianggap perempuan yang hina dan tidak tahu diri. Meskipun realitas sosial yang terjadi bahwa banyak dari mereka yang belum siap secara mental untuk menikah. Bahkan terkadang perempuan menjadi objek yang disalahkan atas terjadinya sebuah perceraian. Beberapa persepsi muncul pada kasus perceraian, bahwa kesalahan terdapat pada perempuan yang tidak mau bersabar sedikit menjaga keutuhan rumah tangganya. Padahal persoalan perceraian bersumber dari kedua belah pihak.[9]

PANDANGAN MASYARAKAT   

     Di negara Indonesia sendiri, banyak daerah yang masih menganut budaya patriarki yang memperlihatkan mengenai kedudukan seorang laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Sejarah juga menjelaskan bahwa laki-laki diperbolehkan meneruskan pendidikan, sedangkan perempuan tidak diperbolehkan untuk mendapatkan pendidikan yang layak karena ujung-ujungnya perempuan hanya akan mengurus rumah tangga. Namun, beberapa tahun silam Raden Ajeng Kartini telah mengagaskan gerakan emansipasi perempuan demi memperjuangkan hak perempuan Indonesia. Dalam hal ini beliau menuntut hak perempuan khususnya dalam dunia pendidikan, sehingga perempuan dapat menjadi role model dalam sosialisasi primer di keluarga. Walaupun perempuan saat ini sudah dapat menempuh pendidikan dengan bebas. Namun, kembali lagi pada paradigma masyarakat jika perempuan sudah berumah tangga ia harus membagi perannya. Hal tersebut terkadang akan membatasi peran perempuan di masyarakat.  Dimana perempuan dilarang untuk mengejar karir dan diharuskan untuk fokus terhadap perannya sebagai ibu rumah tangga saja.

     Sejak zaman dahulu budaya patriarki sudah berpengaruh terhadap ruang lingkup kehidupan masyarakat Bali. Dimana dalam hal pewarisan, laki-laki Bali akan lebih diutamakan sebagai pewaris dari keluarganya dibandingkan dengan perempuan Bali. Selain itu dalam hal pendidikan dan pada dunia kerja, laki-laki Bali lebih diutamakan untuk menempuh pendidikan dibanding perempuan Bali karena paradigm masyarakat bahwa pewaris utama keluarga adalah laki-laki. Sehingga perempuan Bali terbatas ruang lingkupnya untuk mendapatkan pekerjaan karena pendidikan yang mereka dapatkan hanya seadanya yang mayoritas hanya sampai jenjang SMA dibandingkan dengan laki-laki Bali yang diberikan kesempatan menempuh pendidikan yang jauh lebih tinggi ke perguruan tinggi.

     Paradigma masyarakat mengenai budaya patriarki ini akan terus ada selama mereka masih mengkontruksi mengenai status dan peran gender itu sendiri. Sampai saat ini budaya patriarki masih langgeng berkembang di tatanan masyarakat. Penegakan hukum pun masih cukup lemah dan ketidakadilan gender masih ada. Meskipun Indonesia adalah negar hukum, kenyataannya payung hukum sendiri belum mampu mengakomodasi berbagai permasalahan sosial di masyarakat.[10]

KESIMPULAN DAN SARAN

     Lambat laun pengaruh budaya patriarki ini akan terus mendorong berbagi permasalahan sosial jika tidak diperhatikan perkembangannya. Dimana hal tersebut secara tidak langsung akan berimbas kepada perkembangan suatu negara baik dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan dan lainnya. Berdasarkan kenyataan di lapangan sesungguhnya perempuan dapat membantu perekonomian khususnya di Bali. Hal ini dibuktikan dengan pembahasan diatas dimana adanya persentase perempuan di Bali dalam berkontribusi untuk sumbangan pendapatan pada sebuah keluarga. Selain itu dalam sisi adat dan budaya di Bali perempuan secara tidak langsung telah berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian di Bali. Jika dilihat pada setiap upacara adat atau hari keagamaan, perempuan Bali harus membuat canang atau banten dan hal tersebut secara tak langsung sudah menunjang perekonomian Bali khususnya bagi pedagang sarana prasarana canang dan banten, seperti: janur, buah, bunga dan sarana prasaran lainnya. Pedagang tersebut sebagian besar notabenenya adalah seorang perempuan juga.

     Hakikatnya kesetaraan gender memang tidak bisa dilepaskan dari konteks yang selama ini dipahami oleh masyarakat, dimana kedudukan laki-laki lebih tinggi dari perempuan di dalam realitas sosial mereka. Dilihat dari berbagai peran aktif perempuan dewasa ini, membuktikan seberapa kuat perjuangan kaum feminisme di Indonesia. Meskipun budaya patriarki masih mempengaruhi dalam kehidupan masyarakat.[11] Dengan dasar pertimbangan setiap manusia dilahirkan hak yang sama, baik laki-laki maupun perempuan maka membangun kesejahteraan masyarakat tanpa melihat perbedaan gender akan lebih mudah diwujudkan. Maka dari itu kami Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana merekomendasikan pernyataan sikap:

     Mengupayakan pendidikan kesadaran gender sebagai upaya untuk memberikan pencerahan akan budaya atau keseluruhan perilaku, kebiasaan, nilai, aturan bahkan adat yang membuat perempuan setara dengan laki-laki.

       Mengharapkan pemerintah memberikan pelayanan-pelayanan yang mendorong kesetaraan gender, melalui peran aktif PKK (Pembinaan Kesejahteran Keluarga) sebagai salah satu kegiatan yang bisa menunjang perekonomian masyarakat selain tugas pokok perempuan sebagai ibu rumah tangga, serta mengharapkan pemerintah dapat menjadi fasilitator dalam mewadahi kaum perempuan mengembangkan diri di usia produktif.

     Mengajak setiap perempuan agar mampu memotivasi atau mampu menjadi role model khususnya dalam bidang perekonomian bagi sesama kaumnya dengan gerakan Ayo Menjadi Wanita Karir yang diharapkan dapat mendorong perempuan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.

     Mengajak seluruh mahasiswa untuk lebih memahami dan mendukung upaya kesataraan gender, dengan selalu ikut aktif dalam berbagai kegiatan yang tidak hanya harus dilakukan oleh laki-laki saja. (MP/IP/AP/AF/BD/KW)

Untuk Mendownload Kajian bisa klik Link di bawah ini:

Kajian “Budaya Patriarki: Adat dalam Balutan Kesetaraan Gender”

 

Referensi :

[1]Anonim. “Kesetaraan Gender”. https://www.kamusbesar.com/kesetaraan-gender.

[2]Erdianto, Kristian. “Kaum Perempuan Diantara Budaya Patriarki dan Diskriminasi Regulasi” https://nasional.kompas.com/read/2017/03/09/08481931/kaum.perempuan.di.antara.budaya.patriarki.dan.diskriminasi.regulas

[3] Oreo. “Convention Watch”. 2007. http://www.democraticconventionwatch.com/diary/date/2007/01/

[4] Pudja, Gede. 1977. “Manawa Dharma Sastra”. Jakarta: Dep. Agama R.I.

[5]Ni Nyoman Rahmawati.”Perempuan Bali dalam Pergulatan Gender  (Kajian Budaya, Tradisi, dan Agama Hindu)”. 2015

[6] Ni Putu Devi Ekayanti Ningsih “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Perempuan Bali untuk Bekerja di Sektor Publik (Studi Kasus di Desa Adat Kerobokan Kuta Utara Kabupaten Badung)”.

[7] Andersen. “Keterkaitan Antara Faktor-Faktor Rumah Tangga dengan Kesempatan Kerja Wanita”. Vol : Hal 5-12. 2003.

[8] Irma Sakina, Ade dan Hassanah Siti A, Dessy. “Meyoroti Budaya Patriarki di Indonesia”. http://etd.repository.ugm.ac.id/downloadfile/66158/potongan/S2-2013-306599-chapter1.pdf. Vol.7.

 [9] Trianto, S. (2006). “Perempuan dan Hukum”. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

[10] Anda, Suara. “Budaya Patriarki dan Kesetaraan Gender”. http://unjkita.com/perempuan-budaya-patriarki-dan-kesetaraan-gender/

[11] Irma Sakina, Ade dan Hassanah Siti A, Dessy. “Meyoroti Budaya Patriarki di Indonesia”. https://www.researchgate.net/publication/319671805_Menyoroti_Budaya_Patriarki_di_Indonesia. vol.7

341606

DEMAM GAME MOBILE LEGEND : BANG BANG PENGARUHI AKTIVITAS MAHASISWA FEB UNIVERSITAS UDAYANA

341606

3718 3719

3720 3721

 

oleh :

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana

 

            Mobile Legend : Bang Bang merupakan salah satu gameonline yang sedang trending saat ini. Beragam usia kini tengah kecanduan dengan game yang satu ini. Lalu, apa sebenarnya GameMobile Legend ini? Dan mengapa banyak yang memainkan game ini? Jadi secara umum GameMobile Legend:Bang Bang adalah game yang dirancang untuk ponsel dimana dalam game ini, pemain dituntut untuk mempertahankan basis atau minion agar tidak dihancurkan oleh lawan. Fitur dalam game ini terbilang cukup menarik sehingga dapat memanjakan mata ketika dimainkan. Selain itu,game ini juga tergolong ke dalam game yang mudah dimainkan. Bagi yang pertama kali memainkan game ini, akan diajarkan terlebih dahulu bagaimana cara untuk memainkan game ini mulai dari menentukan hero yang digunakan, menggunakan skill dari hero yang digunakan, cara menyerang lawan hingga  bermain bersama pemain lain. Tak heran gameonline ini banyak digemari oleh setiap orang, bahkan para pemain dijuluki sebagai Moba Lovers. Selain memiliki fasilitas yang menarik di dalamnya, gameonline ini berhasil membuat seseorang menjadi kecanduan karena pemain ditantang untuk mempertahankan wilayah sendiri bagaimanapun caranya.

           Dibalik sensasi dari game yang sedang hits ini, tersimpan kelebihan dan kekurangan di dalamnya. Memiliki grafik yang berkualitas tinggi dimana pemain dapat dengan jelas melihat peta pemain, hero, item serta efek skill dari hero yang digunakan merupakan salah satu kelebihan dari game online ini. Selain itu, hero dalam game ini bervariasi sehingga para Moba Lovers dapat memilih pemain favoritnya. Bagi kalangan pemula, tentu akan mengalami sedikit kesulitan saat pertama kali memainkan game ini namun hal itu dapat diatasi karena game ini memiliki kendali yang memudahkan bagi kalangan tersebut. Banyaknya reward dan event juga dapat membantu player untuk tetap konsisten dalam memainkan game ini.

          Walaupun terdapat kelebihan dalam game ini, ternyata terselip beberapa kekurangan dalam game ini, yaitu dalam memainkannya dibutuhkan koneksi internet yang memadai. Hal ini yang sering dikeluhkan oleh para Moba Lovers karena jaringan koneksi internet yang tidak stabil. Selain koneksi internet, game Mobile Legend juga memerlukan kapasitas penyimpanan dan RAM yang cukup besar.

            Terlepas dari segala kekurangan GameMobile Legend ini, fakta yang terdapat di lapangan banyak masyarakat yang masih berminat dan menikmati game ini. Bahkan para penggemar game ini rutin bermain disela waktu luangnya. Saat berkumpul bersama teman-teman pun mereka asyik bermain Game Mobile Legend. Para pemainnya juga bervariasi, ada dari kalangan remaja hingga dewasa. Ini membuktikan bahwa Game Mobile Legend melekat di hati seluruh kalangan masyarakat. Moba Lovers bahkan rela mengeluarkan kocek lebih untuk meningkatkan kualitas hero-nya. Tidak dapat dipungkiri bahwa Game Mobile Legend merupakan game favorit setiap orang. Namun, karena aktifnya bermain Game Mobile Legend membuat mereka tidak menghiraukan hal lain dan cenderung bersikap acuh terhadap lingkungan sekitar. Mereka lebih fokus untuk bermain daripada mengobrol dengan orang-orang disekitarnya. Bahkan pemain yang sudah memiliki ketergantungan akan menghabiskan waktunya hanya untuk bermain game tersebut.

      Virus Game Mobile Legend rupanya juga telah menyebar di kalangan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Fakultas Ekonomi dan Bisnis merupakan salah satu fakultas di Universitas Udayana yang pada kenyatannya juga memiliki peminat Game Mobile Legend yang tidak sedikit. Banyak mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang memainkannya ketika mereka memiliki waktu istirahat maupun waktu luang. Hal ini dapat dilihat berdasarkan data kuesioner yang telah diisi oleh mahasiswa/I di Fakultas Ekonomi dan Bisnis dimana sebanyak 67,88% mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana mengenal Mobile Legend dari teman mereka. Tentu hal ini membuat peminat Game Mobile Legend menyebar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Seperti halnya masyarakat pada umumnya, peminat Game Mobile Legend di  Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana tidak hanya terdiri dari mahasiswa laki-laki saja, namun peminatnya juga berasal dari mahasiswa perempuan. Hal tersebut menunjukkan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana tidak ada pembeda antara perempuan dan laki-laki dalam bermain game tersebut.

          Bermain Game Mobile Legend bukan hanya sekedar aktivitas untuk menghibur diri, tetapi telah menjadi kegemaran bagi  banyak kalangan. Berdasarkan data yang diperoleh, rutinitas bermain Game Mobile Legend dari mahasiswa/I di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana setiap harinya yaitu sebesar 53,55% dan 47,46% mengaku tidak setiap hari bermain Game Mobile Legend. Hal ini menunjukkan bahwa disela-sela waktu mereka digunakan untuk memainkan game ini. Durasi waktu untuk memainkannya pun beragam. Ada yang kurang dari dua jam, dua sampai empat jam bahkan lebih dari dua jam. Namun, berdasarkan data kuesioner, durasi bermain tertinggi yaitu kurang dari dua jam sebanyak 64,69%. Dimana, berdasarkan persentase tersebut, para gamers di kalangan mahasiswa ini rata-rata hanya memainkan game ini kurang dari dua jam dan selebihnya digunakan untuk melakukan aktifitas yang lain.

          Dari durasi waktu yang mereka gunakan untuk memainkan game ini, hal ini berdampak pada jam tidur di malam hari. Sehingga, dilihat dari data yang ada, sebanyak 41,61%  mahasiswa/I mengaku jarang tidur larut malam dan 12,41% sangat sering tidur larut malam. Hal ini menunjukkan bahwa, sebagian besar mahasiswa/I di Fakuktas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana terbilang bisa mengatur waktu beristirahat di malam hari walaupun disisi lain juga memainkan game yang sedang tren ini. Beralih dari waktu, untuk memainkan game ini tentunya diperlukan uang penunjang. Untuk itu, sebanyak 56,20% dari total keseluruhuan mahasiswa/I yang mengisi kuesioner mengaku sangat jarang mengeluarkan uang untuk menunjang Game Mobile Legend. Dimana sebanyak 74,45% pengeluaran mahasiswa/I yaitu kurang dari Rp 50.000. Hal ini berarti bahwa, sebagian besar uang dari mahasiswa/I di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana tidak sepenuhnya digunakan untuk menunjang game ini melainkan hanya kurang dari Rp 50.000 yang digunakan. Selain uang, sebagian besar mahasiswa/I di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana ternyata pernah memainkan game ini saat jam kuliah. Hal ini dilihat dari data yang ada yaitu sebanyak 59,12% pernah gaming saat jam kuliah berlangsung dan 40,88% mengaku tidak pernah alias fokus dengan jam kuliah saja.

         Memainkan game ini tentunya sangat bagus karena secara tidak langsung dapat menurunkan tingkat stress disela – sela waktu yang senggang maupun padat. Hal ini dilihat dari kondusifitas pembelajaran mahasiswa/I dengan memainkan game ini sebanyak 68,42% mengaku stabil. Apalagi dengan memainkan game ini, secara tidak langsung dapat melatih kreativitas para pemain. Terbukti dengan sistem game tersebut mengajarkan kita agar dapat melakukan segala cara untuk dapat bertahan dari serangan musuh. Di satu sisi, perlu kita sadari bahwa kita sebagai mahasiswa/i juga masyarakat  harus bisa  cermat dalam memilih kapan dan dimana waktu yang memang benar-.benar tepat untuk memainkannya. Tentunya hal ini diharapkan tidak menggangu hubungan sosial kita dengan orang lain hanya karena diakibatkan terlalu sering memainkan game ini sampai kita lupa waktu, lingkungan sekitar kita dan lain sebagainya. Kita sebagai mahasiswa/I juga masyarakat, diharapkan agar selalu bisa mengetahui dan mengingat, apa saja dampak baik dan dampak buruk dari segala aktivitas yang kita lakukan ketika bermain  GameMobile Legend: Bang Bang.

Untuk Mendownload Infografis bisa klik Link di bawah ini :

Infografis : Pengaruh Mobile Legend Terhadap Aktivitas Mahasiswa FEB Unud

 

ebl

Pengumuman Daftar Panitia Pelaksana 8th Equillibrium Basketball League

ebl-3

 

[Pengumuman Daftar Panitia Pelaksana 8th Equilibrium Basketball League]

Halo Civitas Ekonomi!✨
Kami mengucapkan selamat bergabung dalam kepanitiaan 8th Equilibrium Basketball League bagi yang lolos seleksi. Untuk yang belum lolos seleksi, jangan berkecil hati karena masih banyak peluang di kepanitiaan lain. Kepada panitia yang terpilih kami mengucapkan selamat bekerja! Mari bekerjasama untuk menyukseskan acara 8th Equilibrium Basketball League!

Untuk pengumuman selengkapnya bisa diunduh di link berikut :
Pengumuman Panitia Pelaksana 8th EBL

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi narahubung di bawah ini :
📱Manik : 087862734721
🆔 sangayumanikpra_
📱Yunita : 087861868446
🆔 Myd72

S__29548547

Pengumuman Daftar Panitia Pelaksana Seminar Nasional 2018

SEMNAS PNGHalo Civitas Ekonomi!🙌
Kami mengucapkan selamat bergabung dalam kepanitiaan Seminar Nasional 2018 bagi yang lolos seleksi. Untuk yang belum lolos seleksi, jangan berkecil hati karena masih banyak peluang di kepanitiaan lain. Kepada panitia yang terpilih kami ucapkan selamat bekerja! Mari bekerjasama untuk menyukseskan acara Seminar Nasional 2018.

Untuk pengumuman selengkapnya bisa diunduh pada link berikut:
Daftar Panitia SEMNAS 2018

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi narahubung di bawah ini :
📲 089683792288 (Amey)
LINE : amey_dewi
📲 085965913580 (Indah)
LINE : komangIndah12